Senin, 19 Desember 2022

Petani Dampingan Yakines Harus Menjadi Petani Yang Mandiri

Di hadapan petani yang berasal dari duabelas desa dampingan Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines), Labuan Bajo, Camat Welak, Alvenus Joni menegaskan bahwa petani dampingan Yakines harus menjadi petani yang mandiri. Hal ini disampaikannya ketika mewakili Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMD), Kabupaten Manggarai Barat dalam kegiatan Evaluasi dan Perecanaan bersama Petani dampingan dari ke-12 desa dampingan Yakines yang tersebar di enam kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Manggarai Barat pada Senin,5/12/2022 di Kampung Lana, Desa Wewa, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat. “Saya baru pertama kali mendengarkan istilah pertanian organik untuk kalangan petani yang ada di wilayah kecamatan ini. Jadi saya berharap agar petani dampingan Yakines yang menggaungkan pertanian organik ini mampu menjadi petani yang mandiri. Petani yang mandiri, berarti petani yang tidak lagi harus ikut berebutan pupuk pabrik bersubsidi. Petani yang bisa bekerjasama dengan pemerintahan desa. Petani yang dapat mengatasi beragam persoalan yang ada di desa salah satu di antaranya adalah masalah stanting.” Tegas Alvenus.
Kegiatan yang dihadiri oleh kaum perempuan petani itu berlangsung selama empat hari terhitung mulai Jumat, 2/12 sampai Selasa, 6/12/2022. Pada hari ketiga dalam rangkaian kegiatan itu dihadiri oleh organisasi perangkat daerah (OPD) terkait yang diundang.
Berkatian dengan program pertanian organik sebagaimana yang telah didampingi oleh Yayasan Komodo Indoensia Lestari (Yakines), Labuan Bajo, camat Welak ini menuturkan bahwa bagi petani yang berasal dari kecamatan Welak yakni petani yang berasal dari desa Orong dan Desa Wewa harus menjadi pioner kemandirian. “Saya tantang petani yang dari Desa Orong dan Desa Wewa untuk jadi pioner untuk menjadi petani yang mandiri. Petani yang berdaulat. Petani yang tidak terus-terusan bergantung pada beragam macam bantuan dari pemerintah.” Ungkap Alvenus.
Kepada kepala desa Wewa dan jajaran di pemerintahan desa dan segenap petani yang barasal dari desa Wewa, Alvenus juga menantang agar mereka mampu menjadi penyedia sayur-sayuran organik untuk kecamatan Welak. “Untuk bapak kepala desa, perangkat desa dan segenap ibu-ibu petani dari Desa Wewa yang hari ini berkumpul di tempat ini saya tantang juga supaya bisa menjadi penyedia sayur-sayuran untuk kecamatan Welak. Ibu-ibu petani dari Desa Wewa harus bisa menjual sayur ke Orong, ke ibu kota kecamatan. Kalau sudah penuhi kebutuhan warga di pusat kecamatan, sayur-sayuran dari Ibu-ibu petani desa Wewa sudah bisa pasarkan ke Labuan Bajo.” Tegas Alvenus. Menurut Alvenus, kemandirian petani ini menjadi langkah penting untuk mengatasi persoalan lain yang disoroti oleh petani kaum perempuan saat itu yakni persoalan migrasi dan praketek rentenir yang saat ini menjerat hampir sebagian besar petani perempuan yang ada diwilayah pedesaan di Kabupaten Manggarai Barat. “Kemandirian petani ini penting. Terlebih bagi kaum ibu yang ada di sini. Mandiri supaya tidak terus terjerat dengan praktek rentenir dan mengurangi keberangkatan kaum muda kita ke luar daerah untuk mencari pekerjaan di sana.” Jelasnya.
Alvenus Joni juga menitipkan harapannya agar semua kelompok yang sudah dibentuk dan didampingi oleh Yakines ini dapat bertahan. Menurut Alvenus, keberadaan kelompok-kelompok yang sudah dibentuk dan didampingi oleh Yakines itu dapat menjadi media untuk membantu kaum perempuan petani ini untuk bisa mandiri. “Saya berharap supaya para ibu yang ada di sini dapat mempertahankan keberadaan kelompoknya untuk bersama-sama mencapai kemandirian.” Harap Alvenus.*

Senin, 28 November 2022

Mendorong Kemandirian Kaum Perempuan Malalui Aliansi Perempuan Indonesia Mandiri (APIR)

Dalam rangka mewujudkan misi peningkatan kesejahateraan seluruh lapisan masyarakat baik perempuan maupun laki-laki maka Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines), menyelenggarakan kegiatan Evaluasi dan Perencanaan (Evaperca) bagi Aliansi Perempuan Indonesia Mandiri (APIR) periode Februari – Desember 2022 di Labuan bajo, pada Rabu, 23 November sampai Jumad, 25 November 2022 di Centro Bajo Hotel. Aliansi ini merupakan himpunan seluruh perempuan petani dampingan Yakines yang berasal dari seluruh desa yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Manggarai Barat. Aliansi ini dibentuk dengan tujuan untuk meningkatkan harkat dan martabat seluruh kaum perempuan terlebih bagi perempuan petani yang berada di pedesaan. Sudah bukan rahasia lagi bila kaum perempuan di pedesaan selalu identik dengan keterbatasan. Dalam keterbatasan itu, kaum perempuan petani di pedesaan seakan terus terperangkap dalam kemiskinan, keterbelakangan dan bahkan kebodohan. Melalui Aliansi ini diharapakan dapat menjadi sarana bagi kaum perempuan petani di pedesaan untuk mengembangkan dan mensukseskan pembangunan serta membantu meningkatkan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah yang sedang mereka hadapi baik itu perorangan maupun bersama. Demikian diungkapkan oleh Ferdinannadus Mau Manu dalam kata pembuka kegiatan tersebut. “Para ibu di sini harus lebih berani maju dan tampil. Berani mengungkapkan kebenaran. Berani memulai pembangungan baik dalam rumah tangga sendiri maupun di tingkat desanya masing-masing yang berbasis pada kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Ini sangat membutuhkan keberaninan.” Ungkap Ferdinandus.
Lebih Lanjut Ferdinandus mengatakan bahwa aliansi ini dipandang sebagai salah satu upaya pemberdayaan yang mana keberhasilannya akan banyak ditentukan oleh kaum perempuan itu sendiri dalam mengubah sutuasi dan kondisi untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aliansi ini didirikan dengan harapan agar kaum perempuan yang tergabung di dalamnya dapat mengambil inisiatif untuk memulai proses pembangunan. Inisitif yang dimaksud adalah inisiatif untuk menciptakan iklim yang memungkinkan munculnya potensi masyarakat untuk berkembang ke arah yang lebih baik. Selain itu kaum perempuan pedesaan juga diharapkan ikut serta dalam menguatkan daya dan potensi yang dimiliki oleh diri sendiri, keluarga dan suatu kelompok masyarakat.
Kegiatan yang bertemakan Mendorong kemandirian Perempuan itu difasilitasi langsung oleh Ferdinandus Mau Manu, Koordinator Progam, Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines), Labuan Bajo. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari berhasil memunculkan berbagai isu krusial yang sedang terjadi baik ditingkat desa maupun kecamatan yang tersebar di wilayah Kabupaten Manggarai Barat. Selain memunculkan isu krusial penghambat pembangunan, kaum perempuan petani itu juga berhasil memuculkan para aktor yang menjadi dalang dari setiap isu krusial tersebut.
Selain memunculakn isu krusial dan aktornya kaum perempuan petani itu, berhasil mengungkapkan gagasannya terkait solusi untuk mengatasi berbagai isu sosial yang dianggap menghambat pembangunan. Dari berbagai isu yang diungkapkan itu mereka juga berhasil mengungkapkan isu yang paling krusial dan yang harus segera ditindaklanjuti oleh mereka setelah kegiatan tersebut selesai. Salah satu isu krusial yang dimunculkan oleh kaum perempuan dalam kegiatan tersebut adalah masalah praktek perjudian, migrasinya kaum muda ke luar Manggarai Barat, stunting dan isu tentang praktek rentenir yang sekrang menguasai hampir seluruh kaum perempuan petani hampir di seluruh wilayah Manggarai Barat.
Untuk mengatasi berbagai isu krusial penghambat pembangunan ini, tidak bisa hanya mengandalkan kaum perempuan saja. Mereka diharapkan dapat membangun sinergisitas dan bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan baik yang ada di desa maupun di tingkat kecamatan di wilayanya masing-masing. Demikian yang diungkapkan oleh Ferdinandus Mau Manu saat menutupi kegiatan tersebut.*

Jumat, 18 November 2022

Kisah Perempuan Pejuang Organik

oleh Emilian Keto
Pada awal tahun 2019 silam, Yayasan Komodo Indonesia Lestari mulai menjejakan kakinya di desa Kembo. Pada tahap awal ini langsung terbentuk enam kelompok tani perempuan. Kepada anggota kelompok tani perempuan tersebut dijelaskan semua perihal program kerja Yayasan Komodo Indonesia Lestari. Salah satu program kerja yang turut diberikan penjelasan pada saat itu adalah tentang pertanian dengan pola organik.
Dalam kesaksiannya Ibu Adel mengakui, pertama kali ia menerapkan organik di lahan sawahnya sendiri, hasil panenan mereka berkurang dari biasanya. Menurunnya hasil panen di lahan sawah mereka itu lebih disebabkan karena mereka baru pertama kali menggunakan pupuk dan pestisida organik. Pada saat pestisida dan pupuk organik tersebut ditaburkan padi di lahan sawah mereka itu baru saja ditanam. Ia beranggapan bahwa ini adalah tahap penyesuaian. Meski hasil panennya berkurang namun Ibu Adel dan suami tidak putus asa. Mereka terus berjuang. Berjuang untuk mempersiapkan pestisida dan pupuk organik.
Pada musim tanam kedua Ibu Adel dan suami kembali menerapkan pola organik di lahan sawah mereka yang seluas dua ribu meter meter persegi dan terletak di persawahan Wae Mose. Berkat semangat dan kerja sama yang baik bersama sang suami, akhirnya Ibu Adel berhasil menghabiskan tiga ratus lima puluh kologram pupuk bokasi, lima puluh litar pestisida organik, lima puluh liter pupuk cair, fungisida sebanyak duapuluh lima liter, dan KCL sebanyak duapuluh lima liter.
Hasil panenan selama mereka gunakan pupuk dan pestisida kimia, hanya dapat diperoleh sepuluh karung gabah. Dari sepuluh karung gabah tersebut setelah dijadikan beras hanya terdapat lima ratus kilogram beras. Sementara hasil yang mereka dapat setelah menggukan pupuk dan pestisida organik mengalami kenaikan berat berasnya. Dengan jumlah gabah yang mereka peroleh delapan karung mereka mendapatkan beras seberat enam ratus lima belas kilogram. dari peningkatan jumalh berat bersih beras yang diperoleh ibu Adel dan suami menyimpulkan bahwa pola organik telah memberikan kualitas beras yang sangat baik. Ini yang menjadi pemicu usaha dari ibu Adelheit sehingga ia bersama suami dan kawan-kawannya terus berjuang menerapkan teknologi pertanian organik di lahan sawah mereka.
Saat ini Ibu Adel dan kawan-kawan mampu melayani pembelian dan pemesanan pupuk dan pestisida organik dengan harga yang sangat terjangkau. Hingga saat ini, ketika pengelamannya ini dibagikan jumlah pupuk dan pestisida organik masih tersedia dirumah kediamannya dan siap untuk dijual. Ia juga melayani pemesanan dalam jumlah banyak sesuai kebutuhan calon pembeli.
Ibu Adel dan suami serta kawan-kawannya masih terus bersemangat untuk mengembangkan pupuk dan pestisida orgnik dengan bantuan peralatan yang ada dan disiapkan secara swadaya. Ibu Adel mengakui bahwa ia bangga telah berhasil menerapkan praktek organik ini. Selain untuk dijual, pupuk dan pestisida organik yang mereka hasilkan tersebut lebih untuk mereka terapkan di kebun atau lahan sawah mereka masing-masing.*

Selasa, 01 November 2022

Perempuan Pejuang Organik

Pada awal tahun 2019 silam, Yayasan Komodo Indonesia Lestari mulai menjejakan kakinya di desa Kembo. Pada tahap awal ini langsung terbentuk enam kelompok tani perempuan. Kepada anggota kelompok tani perempuan tersebut dijelaskan semua perihal program kerja Yayasan Komodo Indonesia Lestari. Salah satu program kerja yang turut diberikan penjelasan pada saat itu adalah tentang pertanian dengan pola organik. Adelheit Nesti Leli atau yang akrabnya disapa Ibu Adel adalah salah satu perempuan petani yang sangat antusias memberikan perhatian dan konsentrasinya pada poin pertanian organik ini.
Ketertariaknnya pada pertanian organik itu kemudian diwujudnyatakan dalam upayanya untuk belajar dan mencari tahu lebih jauh tentang pertanian dengan teknologi organik. Kepada Ibu Adel dan kawan-kawan diberikan penjelasan. Selanjutnya kepada mereka juga diberikan pelatihan dan pendampingan secara langsung oleh pendamping lapangan dari Yayasan Komodo Indonesia Lestari untuk desa Kembo. Tidak tangung-tanggung ibu Adel, kemudian mengajak suami tercinta bersama sepuluh anggota kelompok lainnya untuk sama-sama mengikuti pelatihan yang diberikan saat itu. Pertama kali pelatihan tersebut berlangsung di kantor desa Kembo. Setelah mengikuti pelatihan bersama, Ibu Adel dan kawan-kawannya segera melakukan praktek pembuatan pupuk dan pestisida organik secara mandiri dan menerapkannya di lahannya masing-masing. Dalam kesaksiannya Ibu Adel mengakui, pertama kali ia menerapkan organik di lahan sawahnya sendiri, hasil panenan mereka berkurang dari biasanya. Menurunnya hasil panen di lahan sawah mereka itu lebih disebabkan karena mereka baru pertama kali menggunakan pupuk dan pestisida organik. Pada saat pestisida dan pupuk organik tersebut ditaburkan padi di lahan sawah mereka itu baru saja ditanam. Ia beranggapan bahwa ini adalah tahap penyesuaian. Meski hasil panennya berkurang namun Ibu Adel dan suami tidak putus asa. Mereka terus berjuang. Berjuang untuk mempersiapkan pestisida dan pupuk organik. Pada musim tanam kedua Ibu Adel dan suami kembali menerapkan pola organik di lahan sawah mereka yang seluas dua ribu meter meter persegi dan terletak di persawahan Wae Mose. Berkat semangat dan kerja sama yang baik bersama sang suami, akhirnya Ibu Adel berhasil menghabiskan tiga ratus lima puluh kologram pupuk bokasi, lima puluh litar pestisida organik, lima puluh liter pupuk cair, fungisida sebanyak duapuluh lima liter, dan KCL sebanyak duapuluh lima liter. Hasil panenan selama mereka gunakan pupuk dan pestisida kimia, hanya dapat diperoleh sepuluh karung gabah. Dari sepuluh karung gabah tersebut setelah dijadikan beras hanya terdapat lima ratus kilogram beras. Sementara hasil yang mereka dapat setelah menggukan pupuk dan pestisida organik mengalami kenaikan berat berasnya. Dengan jumlah gabah yang mereka peroleh delapan karung mereka mendapatkan beras seberat enam ratus lima belas kilogram. dari peningkatan jumalh berat bersih beras yang diperoleh ibu Adel dan suami menyimpulkan bahwa pola organik telah memberikan kualitas beras yang sangat baik. Ini yang menjadi pemicu usaha dari ibu Adelheit sehingga ia bersama suami dan kawan-kawannya terus berjuang menerapkan teknologi pertanian organik di lahan sawah mereka. Saat ini Ibu Adel dan kawan-kawan mampu melayani pembelian dan pemesanan pupuk dan pestisida organik dengan harga yang sangat terjangkau. Hingga saat ini, ketika pengelamannya ini dibagikan jumlah pupuk dan pestisida organik masih tersedia dirumah kediamannya dan siap untuk dijual. Ia juga melayani pemesanan dalam jumlah banyak sesuai kebutuhan calon pembeli. Ibu Adel dan suami serta kawan-kawannya masih terus bersemangat untuk mengembangkan pupuk dan pestisida orgnik dengan bantuan peralatan yang ada dan disiapkan secara swadaya. Ibu Adel mengakui bahwa ia bangga telah berhasil menerapkan praktek organik ini. Selain untuk dijual, pupuk dan pestisida organik yang mereka hasilkan tersebut lebih untuk mereka terapkan di kebun atau lahan sawah mereka masing-masing.* Emiliana Keto Pendampinga Lapangan (PL) Yakines

Selasa, 25 Oktober 2022

Pertanian Organik Sebagai Pemicu Daya Juang Perempuan

Bokasi, Produk Organik Yang Membahagiakan Petani Jagung

 Oleh

Maria Angeline Wae Tuto (IRA)

Koordanator Lapangan Yakines

 Tepat apa yang pernah dikatakan oleh para pujangga, “Semakin sulit jalan menuju ke suatu tempat sesungguhnya menjadi suatu kepuasan bila tempat itu dicapai.” Suatu proses yang sulit sesunguhnya menjadi kepuasan, ketika proses itu dapat dilalui. Situasi kebahagiaan batinia ini juga dirasakan oleh petani dampingan Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines)- Labuan Bajo. Salah satu di antara mereka adalah Maria Godefrida Hauman. Petani perempuan kelahiran kampung Latung pada 1976 itu adalah seorang petani jagung. Perempuan yang akrab disapa Ibu Maria  adalah ketua kelmpok tani Melati. Kelompok ini adalah kelompok dampingan Yakines.



Ibu Maria tampak sangat bahagia ketika ia dimintai untuk menceritrakan proses perjuangannya dalam menerapkan pola organik untuk tanaman jagung yang ia kerjakan.  Menurutnya Yakines telah berbuat hal yang tidak saja baik tapi juga indah dalam hidup dan perjuangannya. Ada hal baik yang telah didapatnya. Ada pula hal indah yang telah dinikmati dan dipelajarinya. Keindahan ini tampak dalam usaha Yakines membagikan ilmunya dengan tulus dan tanpa syarat atau bayaran. Ilmu yang paling dibanggakan oleh Ibu Maria Hauman adalah pertanian dengan pola organik. Pertanian dengan pola organik yang dikemas dan dibawa oleh Yakines dirasakan sebagai hadiah terindah yang diberikan kepada Ibu Maria dan kawan-kawannya di wilayah desa Benteng Ndope, Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat- Nusa Tenggara Timur. Kebahagiaan yang didapatkan Ibu Maria tidak lain adalah hasil dari perjuangannya yang dengan tekun melalui semua proses pembuatan dan penerapan sistem pertanian dengan pola organik itu.

Dengan wajah berseri Ibu Maria menjelaskan kalau sebelumnya ia dan juga kaum perempuan petani lain di desanya itu selalu dihantui rasa takut bila musim tanam tiba. Takut kalau mereka tidak kebagian pupuk kimia. Ibu Maria mengakui  bahwa pupuk kimia sudah mereka gunakan sebelum pola organik ini diperkenalkan oleh Yakines. Bahkan yang terjadi adalah ada banyak petani di desa  itu yang menggunakan pupuk berbahan dasar kimia namun belum tahu apa itu pupuk kimia dan apa itu pupuk organik.

Petani dampingan bersama Pendamping Lapangan sedang melakukan pembuatan bokasi organik

Hadirnya
Yakines ini telah membawa angin segar melalui berbagai macam program hingga dapat merubah kebiasaan-kebiasaan lama termasuk juga kebiasaan menggunakan  pupuk kimia.

Program pertanian organik telah menjadi salah satu upaya peningkatan produktivitas usaha tani. Salah satunya adalah usaha tanaman jagung yang dimiliki oleh Ibu Maria G. Hauman yang sebelumnya sangat bergantung pada ketersediaan pupuk berbahan dasar kimia atau pupuk pabrik.

        Kini Ibu Maria dikenal sebagai petani yang berhasil mengelolah lahan kering dengan menggunakan pupuk organik. Ia telah mendapatkan  hasil  jauh lebih baik. Ada perbedaan hasil panenan dengan sebelum menggunakan organik dan setelah menggunakan organik. Meskipun diperhadapkan dengan kesulitan dalam mendapatkan air namun ia tidak menyerah. Ia juga merasa bahagia karena pada saat mereka masih menggunakan pupuk kimia tanaman jagung mereka seringkali terserang hama walang sangit. Selain masalah hama yang sudah mulai teratasi, penggunaan pola pertanian organik ternyata telah membantu Ibu Maria mengurangi biaya mulai dari proses persiapan, penanaman hingga panen. Pertanian organik juga sangat membantu mereka menjaga kesehatan keluarga dan menjamin penghasilan untuk massa depan keluarga.

Bokasi organik yang dihasilkan oleh petani dampingan Yakines dari Desa Benteng Ndope kini mulai memasuki pasaran. Upaya ini didukung penuh oleh Pemenrintah desa setempat.

            Berikut Ibu Maria membagikan tips membuat pestisida dan M4 organik menggunakan bahan – bahan yang tersedia di lingkungan tempat tinggalnya.  Berikut adalah bahan-bahan yang digunakan oleh Ibu Maria untuk membuat pestisida antara lain;  raut,  buah rapin,  daun papaya,  saong woang,  peca mera,  saong sensus,  saong wora,  Lombok,  saong keroso dan air. Sedangkan peralatan yang digunakan antara lain ember matex, karung, parang dan pisau. Cara membuatnya, semua bahan yang telah siapkan itu dipotong-potong kemudian dicampur sampai merata. Selanjut dimasukan ke dalam ember matex, dan tuangkan air timbangan ke dalamnya. Untuk setiap ember matex ibu Maria menghabiskan air kurang lebih sebanyak lima puluh liter air.  Bahan-bahan tersebut selanjutnya direndam dan ditutup rapat selama 21 hari. Setelah 21 hari rendaman itu sudah bisa dibuka dan digunakan pada tanaman apa saja.

            Cara membuat EM4. Sama halnya dengan pestisida, Ibu Maria membuat EM4 dengan mengunakan bahan-bahan yang ada sekitar lingkungan tempat mereka tinggal antara lain; nenas, buah pisang, terasi, air cucian beras, gula pasir, batang pisang. Peralatan yang digunakan dan cara membuatnya sama seperti membuat pestida. Pestisidan dan EM4 organik yang dibuat oleh Ibu Maria sudah mulai diterapkannya di lahan muliknya.    

  Diakhir  kisahnya itu ibu Maria menitipkan pesannya untuk warga desa Benteng Ndope, ‘’Hilangkan  ego untuk meraih masa depan yang lebih baik dan sehat. Kita bangkit bersama Yakines. Kapan lagi kalau bukan sekarang. Di mana lagi kalau bukan di sini, di desa kita Benteng Ndope. Siapa lagi kalau bukan kita. Kita kaum perempuan petani.”*

 Tepat apa yang pernah dikatakan oleh para pujangga, “Semakin sulit jalan menuju ke suatu tempat sesungguhnya menjadi suatu kepuasan bila tempat itu dicapai.” Suatu proses yang sulit sesunguhnya menjadi kepuasan, ketika proses itu dapat dilalui dan saat menikmati hasil dari perjuangan itu. Situasi kebahagiaan batinia ini juga dirasakan oleh petani dampingan Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines)- Labuan Bajo. Salah satu di antara mereka adalah Maria Godefrida Hauman. Petani perempuan kelahiran kampung Latung pada 1976 itu adalah seorang petani jagung. Perempuan yang akrab disapa Ibu Maria  adalah ketua kelmpok tani Melati. Kelmpok ini adalah kelompok dampingan Yakines.

Ibu Maria tampak sangat bahagia ketika ia dimintai untuk menceritrakan proses perjuangannya dalam menerapkan pola organik untuk tanaman jagung yang dimiliknya.  Menurutnya Yakines telah berbuat hal yang tidak saja baik tapi juga indah dalam hidup dan perjuangannya. Ada hal baik yang telah didapatnya. Ada pula hal indah yang telah dinikmati dan dipelajarinya. Keindahan ini tampak dalam usaha Yakines membagikan ilmunya dengan tulus dan tanpa syarat atau bayaran. Ilmu yang paling dibanggakan oleh Ibu Maria Hauman adalah pertanian dengan pola organik. Pertanian dengan pola organik yang dikemas dan dibawa oleh Yakines dirasakan sebagai hadiah terindah yang diberikan kepada Ibu Maria dan kawan-kawannya di wilayah desa Benteng Ndope, Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat- Nusa Tenggara Timur. Kebahagiaan yang didapatkan Ibu Maria tidak lain adalah hasil dari perjuangannya yang dengan tekun melalui semua proses pembuatan dan penerapan sistem pertanian dengan pola organik.

Dengan wajah berseri Ibu Maria menjelaskan kalau sebelumnya ia dan juga kaum perempuan petani lain di desanya itu selalu dihantui rasa takut bila musim tanam tiba. Takut kalau mereka tidak kebagian pupuk kimia. Ibu Maria mengakui  bahwa pupuk kimia sudah mereka gunakan sebelum pola organik ini diperkenalkan oleh Yakines. Bahkan yang terjadi adalah ada banyak petani di desa dan kampungnya itu yang menggunakan pupuk berbahan dasar kimia namun belum tahu apa itu pupuk kimia dan apa itu pupuk organik.

Hadirnya Yakines ini telah membawa angin segar melalui berbagai macam program hingga dapat merubah kebiasaan-kebiasaan lama termasuk juga kebiasaan menggunakan  pupuk kimia.

Program pertanian organik telah menjadi salah satu upaya peningkatan produktivitas usaha tani. Salah satunya adalah usaha tanaman jagung yang dimiliki oleh Ibu Maria G. Hauman yang sebelumnya sangat bergantung pada ketersediaan pupuk berbahan dasar kimia.

Perempuan petani yang berasal dari Desa Benteng Ndope menjadi pioner utama dalam menghidupkan semangat bertani secara organik

Kini Ibu Maria dikenal sebagai petani yang berhasil mengelolah lahan kering dengan menggunakan pupuk organik. Ia telah mendapatkan  hasil  jauh lebih baik. Ada perbedaan hasil panenan dengan sebelum menggunakan organik dan setelah menggunakan organik. Meskipun diperhadapkan dengan kesulitan dalam mendapatkan air namun ia tidak menyerah. Ia juga merasa bahagia karena pada saat mereka masih menggunakan pupuk kimia tanaman jagung mereka seringkali terserang hama walang sangit.

Selain masalah hama yang sudah mulai teratasi, penggunaan pola pertanian organik ternyata telah membantu Ibu Maria mengurangi biaya mulai dari proses persiapan, penanaman hingga panen. Pertanian organik juga sangat membantu mereka menjaga kesehatan keluarga dan menjamin penghasilan untuk massa depan keluarga.

            Berikut Ibu Maria membagikan tips membuat pestisida dan M4 organik menggunakan bahan – bahan yang tersedia di lingkungan tempat tinggalnya.  Berikut adalah bahan-bahan yang digunakan oleh Ibu Maria untuk membuat pestisida antara lain;  raut,  buah rapin,  daun papaya,  saong woang,  peca mera,  saong sensus,  saong wora,  Lombok,  saong keroso dan air. Sedangkan peralatan yang digunakan antara lain ember matex, karung, parang dan pisau. Cara membuatnya, semua bahan yang telah siapkan itu dipotong-potong kemudian dicampur sampai merata. Selanjut dimasukan ke dalam ember matex, dan tuangkan air timbangan ke dalamnya. Untuk setiap ember matex ibu Maria menghabiskan air kurang lebih sebanyak lima puluh liter air.  Bahan-bahan tersebut selanjutnya direndam dan ditutup rapat selama 21 hari. Setelah 21 hari rendaman itu sudah bisa dibuka dan digunakan pada tanaman apa saja.

            Cara membuat EM4. Sama halnya dengan pestisida, Ibu Maria membuat EM4 dengan mengunakan bahan-bahan yang ada sekitar lingkungan tempat mereka tinggal antara lain; nenas, buah pisang, terasi, air cucian beras, gula pasir, batang pisang. Peralatan yang digunakan dan cara membuatnya sama seperti membuat pestida. Pestisidan dan EM4 organik yang dibuat oleh Ibu Maria sudah mulai diterapkannya di lahan muliknya.    

   Diakhir  kisahnya itu ibu Maria menitipkan pesannya untuk warga desa Benteng Ndope, ‘’Hilangkan  ego untuk meraih masa depan yang lebih baik dan sehat. Kita bangkit bersama Yakines. Kapan lagi kalau bukan sekarang. Di mana lagi kalau bukan di sini, di desa kita Benteng Ndope. Siapa lagi kalau bukan kita. Kita kaum perempuan petani.”*

 

Muhamat Sutar, YAKINES Bawa Harapan Baru Bagi Masyarakat Desa Tiwu Nampar

Menjelang akhir Juli 2023, kami melakukan kunjungan ke desa Tiwu Nampar, seperti yang harus dilakukan di setiap desa dampingan Yakines setia...