Kamis, 13 April 2023
Petani Dalam Gua Jeratan Koorporasi
Entah sadar, entah tidak, petani di masa sekarang sedang tidak baik-baik saja. Profesi yang dijuluki sebagai penyanggah tatanan negara Indonesia itu kini dibuat menjadi serba tidak berdaya. Ketidakberdayaan petani lebih diciptakan oleh keadaan dan sistem yang ada di dalam negara ini. Pertanian dipolitisasi. Akibatnya adalah petani dieksploitasi melalui perdagangan. Berpacu dalam ruang persaingan rugi dan laba, petani akhirnya berdiam diri dalam jeratan kaum kapitalis yang dibungkus rapih dalam kemasan industrialisasi. Koorporasi membuka pintu gua jeratan bagi petani dengan dalil kemajuan dalam dunia pertanian. Jeratan yang dipasang kaum kapitalis dengan mendapat dukungan dan kebijakan politik yang tidak berpihak pada petani itu masih belum disadari penuh oleh kebanyakan masyarakat luas termasuk di dalamnya oleh petani itu sendiri. Persoalan ini dikemukakan dengan lantang oleh Koordinator program Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines) Labuan Bajo, Ferdinandus M.Manu di hadapan kepala desa bersama staff, ketua BPD dan anggota, para kepala Dusun, para ketua RT, para kader posyandu, para tua-tua adat dan perwakilan kaum perempuan Desa Watu Nggelek dalam acara penyusunan rancangan perturan deda tentang kedaulatan pangan di aula kantor Desa Watu Nggelek belum lama ini.
Menurut Ferdinandus M. Manu, keberadaan petani dalam gua jeratan koorporasi itu dapat dilihat dari ketergantungan petani pada dunia industrialisasi yang justeru mengekerdilkan kehidupan petani itu sendiri. Ketergantungan yang paling utama adalah ketergantungan benih. Sejatinya identitasnyaseorang petani itu dikenal dari kepemilikian benih. Sayangnya petani dalam dewasa ini sudah terlalu bergantung pada benih yang diperjualbelilkan. Benih yang diperdagangkan. Benih hasil dari proses industrialisasi. Sejalan dengan upaya memperdagangkan benih kepada petani, pemerintah seringkali mengambil kebijakan politik yang timpang. Benih dijadikan alat politisasi demi menarik simpatik masyarakat petani. Lagi-lagi benih hasil industri itu juga yang dibagikan. Baik benih yang dibagikan oleh pemerintah ataupun benih yang dibeli langsung oleh petani sama-sama memiliki riwayat yang sama. Sama-sama diciptakan agar petani terus bergantung. Petani diharuskan untuk tidak memiliki benih secara merdeka dan mandiri karena benih tersebut telah dirakit untuk satu atau dua kali tanam. Kemenangan awal telah berpihak pada kaum kapitalis.
Ketergantungan petani pada mesin uang kaum kapitalis tidak saja terbatas pada benih semata tetapi menjalar sampai pada sarana dan prasarana produksi. Beredar luas pupuk dan pestisida pabrikan sejak revolusi hijau sampai sekarang. Petani lagi-lagi menggantungkan nasibnya pada pupuk dan pestisida pabrikan. Petani hingga kini masih saja terus begeming tanpa daya. Pemerintah merintis kebijakan memberikan subsidi pupuk. Alih-alih mensejahterakan petani, toh cita-cita dari kebijakan itu serasa panggang jauh dari api. Petani seakan dihipnotis untuk terus menerus menggunakan pupuk dan pestisida pabrikan itu tanpa tahu kapan akan berakhir. Sementara semua unsur hara dalam tanah terus disedot dengan paksa sebagai akibat penggunaan pupuk dan pestisida pabrikan. Akibat yang dirasakan oleh petani adalah semakin berkurangnya jumlah hasil pertanian yang lebih disebabkan oleh kondisi tanah semakin hari semkin keras dan padat. Petani terpaksa harus terus menambah jumlah atau dosis pemberian pupuk dari waktu ke waktu. Ongkos kerjapun terus bertambah. Semakin tingginya jumlah ongkos kerja sementara hasil panenan yang didapat jauh dari yang diharapkan. Kerugian diderita petani. Bertani dipandang sebagai kemalangan. Karenanya anak, remaja dan kaum muda dari kelurga petani hampir tidak pernah diharapkan untuk kembali menjadi petani.
Saat ini petani telah terseret masuk dalam gua jebakan industrialisasi oleh kaum kapitalis. Gua, oleh Plato telah dijadikan sebagai analogi sistem pengetahuan manusia. Menurut Plato, manusia yang terjebak dalam gua akan beranggapan bahwa yang mereka lihat itu adalah kebenaran sekalipun dalam keadaan yang gelap. Kebenaran tidak akan diperoleh oleh mereka yang tidak ingin berjuang membebaskan diri dari gelapnya gua. Pengetahuan akan kebenaran hanya dapat dimiliki oleh mereka yang mampu dan mau melihat setitik cahaya yang datang dari luar gua. Tidak hanya melihat namuan ia berniat dan berjuang untuk menemukannya. Plato melukiskan bahwa orang yang mau mencari kebenaran itu akan berjuang dengan memanjat tebing gua dan keluar melihat cahaya matahari yang bersinar gemilang di luar gua.
Mnurut Ferdinandus Mau Manu, Yayasan Komodo Indonesia Lestari (YAKINES)- Labuan Bajo, berjuang dengan segala daya dan upaya terus membangun kesadaran masyarakat petani untuk sadari keadaan dan berbalik membebeskan diri dari jeratan kaum kapitalis. "Kami hadir sebagai lembaga yang transformatif bukan sebagai lembaga karitatif. Sebagai lembaga yang transformatif; maka kami datang ke hadapan bapak dan ibu untuk membagikan pengetahun, kemampuan dan teknologi. Jadi kami hadir bukan untuk membagi uang atau barang." Tegasnya.
Lebih lanjut ia berharap agar dengan pengetahuan, kemampuan dan teknologi yang diberikan oleh lembaga YAKINES dapat menjadi jalan pulang bagi petani untuk keluar dari gua jebakan kaum kapitalis dan praktek timpang dari sistem politik masa kini dalam dunia pertanian. Jalan ini kami buka dan kami berikan dengan program pertanian organik, lumbung benih dan berbagai program lain. "Sekarang tinggal bapak dan ibu pilih mau tetap berdiri teguh dalam gua jebakan industrialisasi dalam dunia pertanian kita atau segera berbalik badan mencari jalan pulang menuju kemerdekaan diri dan menunjukan identitas diri sebagai petani yang sejati?" Ungkapnya retoris.
Senin, 27 Maret 2023
Yakines Di Desa Batas Kota
Desa Nggorang sampai saat ini masih dikenal sebagai batas kota. Di sini jadi pintu keluar dan masuknya warga dari dan ke kota Labuan Bajo. Sebagai bagian dari akses keluar dan masuknya orang dan barang itulah yang manjadi salah satu sebab munculnya beragam persoalan di sini. Demikian diungkapkan oleh Kepala Desa Nggorang, Bonefasius Mansur, S.IP ketika membuka kegiatan sosialisasi Rancangan Peraturan Desa yang ditawarkan oleh Yayasan Komodo Indonesia Lestari (YAKINES).
Kegiatan yang dihadiri oleh sebagian besar kaum perempuan yang terdiri dari para kader posyandu, ketua dan anggota BPD, para kepala Dusun, dan para ketua RT serta staff desa. Hadir juga dalam kegiatan tersebut beberapa orang utusan Yayasan Komodo Indonesia Lestari yang diwakili oleh Koordinator Lapangan, Natalia Namang, Pendamping Lapangan Desa Nggorang dan Tiwu Nampar, Paulus Resing dan Titus Anggar. Kegiatan tersebut bertujuan untuk membahas dan menilai tiga rancangan peraturan desa (ranperdes) yakni Ranperdes tentang Kedaulatan Pangan, Randperdes tentang konservasi sumber mata air, dan ranperdes tentang perlindungan anak. “Kegiatan ini menjadi titik awal dimulainya pelaksanaan program dan pendampingan yang dilakukan oleh Yakines di Desa Nggorang.” Jelas Natalia.
Lebih lanjut menurut Natalia, sebagaimana desa-desa dampingan lain, Desa Nggorang akan didampingi selama tiga tahun terhitung sejak Maret 2023 hingga Maret 2026. Menurut Natalia, pendampingan yang akan dilakukan oleh Yakines adalah bagian dari upaya menyalurkan berbagai pengetahuan dan upaya menghidupkan berbagai kearifan lokal seperti praktek pengembangan pertanian organik, perlindungan terhadap sumber daya tanah dan air melalui kegiatan tanam pohon di mata air dan teras sering, pemenfaatan lahan pekerangan, pengembangan pangan lokal hampir punah, usaha bersama simpan pinjam, program lumbung benih dan lumbung pangan. “Ini yang jadi fokus pendampingan kami selama bersama masyarakat di Desa Nggorang ini. Sehingga kegiatan ini kami kemas dalam tema umum kerja Yakines yakni Pemberdayaan Perempuan malalui kedaulatan pangan, perlindungan dan konservasi sumber daya alam. Jadi ada tiga poin utama yang jadi titik fokus Yakines yaitu perempuan, pangan dan alam.” Terang Natalia di hadapan peserta yang hadir.
Disela-sela kegiatan yang berlangsung di aula kantor Desa Nggorang pada Senin, 19 Maret 2023 itu, Bonefasius Mansur mengungkapkan bahwa pada pada prinsipnya, pemerintah Desa Nggorang dengan senang hati menerima setiap pihak yang memiliki niat tulus dan mau berkorban demi pembangungan desa tersebut ke arah yang labih baik. “Pada prinsipnya saya sebagai kepala desa di tempat ini dengan hati senang menyambut setiap orang dan semua pihak yang mau bekerja sama dan sama-sama bekerja untuk pembangunan desa ini ke arah yang lebih baik. Termasuk Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines) ini.” ungkap Benfasius.
Ia juga menuturkan bahwa Desa Nggorang sebagai desa batas kota memiliki sekelumit persoalan yang perlu mendapatkan perhatian dan kerja sama dari semua pihak untuk menuntaskannya. “Ada banyak persoalan yang ada di sini. Ada persoalan warga yang datang dan pergi sehingga kesulitan dalam proses pendataannya, kepemilikan kos-kosan yang tidak terkontrol oleh pemilik, perosalan sampah, pemenuhan gizi anak, sanitasi dan berbagai persoalan lain.” Jelas Bonefasius.
Ia berharap dengan Pendampingan Yakines bagi masyarakat Desa Nggorang dapat menjadi angin segar bagi pemerintah dan masyarakat Desa Nggorang dalam proses pembangunan.”Harapannya dengan kedatangan Yakines bisa menjadi angin segar dan membantu dalam proses pembangunan desa ini ke arah yang lebih baik terlebih untuk mengentaskan beragam persoalan yang bisa diatasi bersama Yakines.” Pinta Bonefasius.
Sementara itu Margaretha Hasmawati, ketua PKK Desa Nggorang mengungkapkan bahwa dengan masuknya Yakines ke Desa Nggorang ini menjadi kekuatan bagi PKK dan para ibu untuk memberikan perhatian khusus pada persoalan pemenuhan gisi anak melalui upaya pemenfaatan pekerangan. “Semoga bersama Yakines bisa menjadi penyemangat untuk sama-sama kita berikan perhatian khusus pada pemenuhan gizi anak melalui pemenfaatan pekerangan dengan menanam sayur dan berbagai kebutuhan dapur lain. Hal lain adalah semoga dengan hadirnya Yakines di Desa Nggorang ini dapat bekerja sama untuk peningkatan ekonomi rumah tangga yang berdampak langsung pada kaum ibu di Desa ini” Ungkap Margaretha.* ABW
Senin, 13 Maret 2023
Yakines Berpastoral
Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines) dengan semangat melayani, ikut bersatu dalam persaudaraan yang sejati dengan ikut mengambil bagian secara aktif dalam persekutuan umat Katolik yang tergabung dalam Paroki Maria Bunda Segala Bangsa, Wae Sambi- Labuan Bajo. Keterlibatan aktif ini ditandai dengan diterimanya jabatan ketua pada Komisi Justice, Peace, Integrity of Creation (JPIC) atau keadilan, Kedamaian dan Keutuhan Ciptaan oleh Direktris Yakines, Gabriela Uran dan Koodrdinator Program Yakines, Ferdinandus M. Manu sebagai anggota. Ibarat setali tiga uang dengan Kebijakan Gereja Katolik Keuskupan Ruteng yang pada tahun 2023 ini telah memilih tema Tahun Pastoral Ekonomi, Berkelanjutan yang Sejahtera, Adil dan Ekologis (SAE). Dalam kaitanya dengan tema tahun pastoral ini maka keikutsertaan Yakines ini telah memberi andil dalam memunculkan berbagai program yang sudah menjadi napas kerja dari Yayasan Komodo Indonesia Lesatari (YAKINES) tanah Manggarai Barat sejak duapuluh tahun silam. Salah Satu dari sekian banyak program yang dimunculkan adalah pengembangan pertanian organik secara khusus pengembangan sayur dan buah organik. Demikian dijelaskan Ferdniandus M. Manu usai memberikan pendampingan dan pelatihan kepada keluarga-keluarga Katolik yang tergabung dalam Komunitas Basis Gereja (KBG), St. Thomas Moore pada Sabtu, 11 Maret 2023 bertempat di kebun milik Sekolah Luar Biasa Negri Labuan Bajo. “Pertanian organik, menjadi salah satu program yang sudah kita canangkan dan kita sepakati bersama pastor paroki Maria Bunda Segala Bangsa. Setelah disepakati maka kemarin kami langsung aksi tindak lanjutnya dengan pembuatan EM4 organik bersama sesama umat di KBG St. Thomas Moore.” Jelasnya.
Lebih lanjut Ferdinandus M. Manu menjelaskan bahwa, kegiatan pelatihan dan pembuatan EM4 organik ini dihadiri juga oleh para siswa/siswi dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Labuan Bajo. “Kebetulan kebun contoh yang dipilih oleh umat KBG St. Thomas Moore adalah bagian dari kintal sekolah maka hadir juga pada saat itu sejumlah siswa/siswi SLBN Labuan Bajo. Diharapkan dikebun ini dapat menjadi pusat pembelajaran bukan saja oleh umat dari KBG St. Thomas Moore tetapi juga menjadi pembelajaran bagi siswa/siswi dari sekolah tersebut..” Ungkapnya.
Menurutnya, semua respon umat Paroki Maria Bunda Segala Bangsa Wae Sambi terhadap program pertanian organik yang gelorakan oleh Yayasan Komodo Indonesia Lestari (YAKINEs dalam Komisi JPIC paroki ini sangat tinggi. “Respon umatnya sangat tinggi. Terbukti setelah program ini dicanangkan beberapa KBG dalam wilayah paroki langsung meminta kesediaan kami untuk dampingi mereka dalam proses pembuatan pupuk dan pestisida organik.” Jelas Ferdi.
“Hal lain yang membuat saya bertambah semangat adalah umat di KBG tidak keberatan ketika mereka dimintakan untuk siapkan bahan-bahan dan peralatannya. Di KBG St. Thomas Moore, kami sudah hasilkan tidak kurang dari seratus liter EM4 organik. EM4 organik ini sudah bisa dipanen pada akhir Maret 2023 ini yang selanjutnya akan kami lanjutkan dengan pembuatan bokasi atau pupuk padat organik dan berdasarkan kesepakatan bersama bahwa paroki juga akan ikut ambil bagian dalam program ini dengan menyediakan bibit atau benih sayuran dan buah-buahan yang akan ditanam oleh umat di setiap kebun contohnya masing-masing KBG. Dan dalam waktu dekat ini saya juga akan dampingi umat di KBG Sta. Felicita.” Ungkapnya senang.
Menurut Ferdinandus M. Manu, umat KBG St. Thomas Moore sudah berencanan akan mengembangkan sayur dan buah organik di lahan tersebut. “Rencananya kami bersama-sama akan kembangkan sayur dan buah-buahan organik dilahan garapan yang dijadikan sebagai kebun contoh itu. Secara pribadi saya siap untuk memberikan pendampingan kepada mereka termasuk mendampingi mereka untuk proses pengolahan lahan, penanaman hingga perawatan dan pemanenan.” Terangnya.
Jumat, 10 Maret 2023
Yakines Ke Sekolah
Dalam rangka menumbuhkan dan membangkitkan semangat bertani dalam diri kaum muda, Yayasan Komodo Indonesia Lestari (YAKINES) menjalin kerja sama bersama Lembaga Pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Komodo. Kerjsama yang telah disepakati bersama dan telah ditandatangani sejak bulan Mei 2022 lalu dilanjutkan dengan rapat teknis yg berlangsung pada Kamis 09 Maret 2023 di Aula Pertemuan SMAN 2 Komodo. Hadir dalam rapat teknis tersebut Koordinator Program Yakines, Ferdinandus M. Manu bersama Koordinator Lapangan, Natalia L. Namang dan pendamping Lapangan (PL), Titus Anggar serta Paulus B. Resing. Turut hadir Kepala SMAN 2 Komodo, Kornelis Joni, S. Fil bersama para guru yang tergabung dalam tim pendampingan program vokasi agrikultur SMAN 2 Komodo.
Kornelis Joni dalam sambutan yang sekaligus membuka dengan resmi rapat tekhnis tersebut mngatakan bahwa pihak sekolah sangat berbangga dan memberikan apresiasi yang tinggi atas respon baik dari Yàkines untuk mendukung terlaksananya kegiatan vokasi agrikultur secara khusus pada pengembangan pertanian organik di sekolahnya itu. "Kami dari pihak sekolah sangat bersyukur dan berterimakasih kepada Yakines yang telah merespon dengan sangat baik program kami ini. Hal ini sejalan dengan semangat dari kurikulum merdeka dan sesuai dengan latar belakang kehidupan anak didik kami di sini yang sebagian besarnya berasal dari keluarga petani." Jelas Korenelis.
Lebih Lanjut Kornelis menjelaskan bahwa program vokasi agrikultur sebagaimana program vokasi lain yang digiatkan di sekolah tersebut, vokasi agrikulture lebih didasari oleh pengamatan lanjutan yang menunjukan bahwa hampir mencapai 70% siswa/siswi yang tamat dari sekolah tersebut memilih untuk tidak melanjutkan kuliah dengan beragam alasan. “Hampir 70% siswa/siwi tamatan sekolah kami ini memilih untuk tidak melanjutkan kuliah dan hanya 30% yang malanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Dengan pengelaman ini kami merasa tepat bila kami dengan serius mengembangkan program vokasi agrikultur kepada para siswa. Harapannya dengan adanya pengelaman bertani semasa sekolah ini akan menjadi bekal bagi mereka untuk bertani setelah mereka tamat nanti. Ya, mereka harus menjadi orang muda yang berani untuk menjadi petani yang handal. Tentunya bertani secara organik.” Ungkapnya usai rapat berlangsung.
Sementara itu Ferdi M. Manu dalam keterangannya mengatakan bahwa, ini adalah pengelaman pertama bagi Yakines dalam mendampingi kaum muda secara intens. "Sudah hampir duapuluan tahun Yayasan Komodo Indonesia Lestari (YAKINES) barkarya di Manggarai Barat. Namun selama ini kami hanya melayani dan memberikan pendampingan kepada para petani di desa-desa pedalaman dan terisolir. Kalaupun memberikan pendampingan kepada kaum muda namun belum seintens seperti yang akan dilakukan seperti dalam kerjasama bersama SMAN 2 Komodo ini. Harapannya kaum muda kita akan semakin tertarik pada dunia pertanian kita lebih khusus pertanian organik." Jelas Ferdi.
Kerjasama ini dilakukan dengan model pendampingan yang yang terus-menerus atau berkelanjutan selama periode tertentu oleh Yakines kepada para siswa/siswi dan para guru dalam mengembangkan pertanian organik. “Saya secara pribadi bersama rekannya saya yang mendampingi masyarkat Desa Nggorang akan secara rutin memberikan pelatihan dan pendampingan dalam proses pengembangan pertanian organik, mulai dari cara membuat pupuk dan pestisida organik sampai pengolahan lahan, penanaman, perawatan dan pemanenan.” Ungkap Titus Anggar yang diamini oleh rekan-rekan pendamping yang lainnya.
Untuk diketahui bahwa pendampingan kepada kaum muda ini digagaskan oleh Yakines guna mencegah terjadinya migrasi kaum muda dari Kabupaten Manggarai Barat untuk mencari pekerjaan ke luar daerah. Dalam pertemuan tekhnis tersebut juga disepakati pengadaan berbagai jenis perlatan dan bahan pengembangan pertanian organik yang akan diadakan bersama antara Yakines dan SMAN 2 Komodo.
Senin, 19 Desember 2022
Petani Dampingan Yakines Harus Menjadi Petani Yang Mandiri
Di hadapan petani yang berasal dari duabelas desa dampingan Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines), Labuan Bajo, Camat Welak, Alvenus Joni menegaskan bahwa petani dampingan Yakines harus menjadi petani yang mandiri. Hal ini disampaikannya ketika mewakili Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMD), Kabupaten Manggarai Barat dalam kegiatan Evaluasi dan Perecanaan bersama Petani dampingan dari ke-12 desa dampingan Yakines yang tersebar di enam kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Manggarai Barat pada Senin,5/12/2022 di Kampung Lana, Desa Wewa, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat. “Saya baru pertama kali mendengarkan istilah pertanian organik untuk kalangan petani yang ada di wilayah kecamatan ini. Jadi saya berharap agar petani dampingan Yakines yang menggaungkan pertanian organik ini mampu menjadi petani yang mandiri. Petani yang mandiri, berarti petani yang tidak lagi harus ikut berebutan pupuk pabrik bersubsidi. Petani yang bisa bekerjasama dengan pemerintahan desa. Petani yang dapat mengatasi beragam persoalan yang ada di desa salah satu di antaranya adalah masalah stanting.” Tegas Alvenus.
Kegiatan yang dihadiri oleh kaum perempuan petani itu berlangsung selama empat hari terhitung mulai Jumat, 2/12 sampai Selasa, 6/12/2022. Pada hari ketiga dalam rangkaian kegiatan itu dihadiri oleh organisasi perangkat daerah (OPD) terkait yang diundang.
Berkatian dengan program pertanian organik sebagaimana yang telah didampingi oleh Yayasan Komodo Indoensia Lestari (Yakines), Labuan Bajo, camat Welak ini menuturkan bahwa bagi petani yang berasal dari kecamatan Welak yakni petani yang berasal dari desa Orong dan Desa Wewa harus menjadi pioner kemandirian. “Saya tantang petani yang dari Desa Orong dan Desa Wewa untuk jadi pioner untuk menjadi petani yang mandiri. Petani yang berdaulat. Petani yang tidak terus-terusan bergantung pada beragam macam bantuan dari pemerintah.” Ungkap Alvenus.
Kepada kepala desa Wewa dan jajaran di pemerintahan desa dan segenap petani yang barasal dari desa Wewa, Alvenus juga menantang agar mereka mampu menjadi penyedia sayur-sayuran organik untuk kecamatan Welak. “Untuk bapak kepala desa, perangkat desa dan segenap ibu-ibu petani dari Desa Wewa yang hari ini berkumpul di tempat ini saya tantang juga supaya bisa menjadi penyedia sayur-sayuran untuk kecamatan Welak. Ibu-ibu petani dari Desa Wewa harus bisa menjual sayur ke Orong, ke ibu kota kecamatan. Kalau sudah penuhi kebutuhan warga di pusat kecamatan, sayur-sayuran dari Ibu-ibu petani desa Wewa sudah bisa pasarkan ke Labuan Bajo.” Tegas Alvenus.
Menurut Alvenus, kemandirian petani ini menjadi langkah penting untuk mengatasi persoalan lain yang disoroti oleh petani kaum perempuan saat itu yakni persoalan migrasi dan praketek rentenir yang saat ini menjerat hampir sebagian besar petani perempuan yang ada diwilayah pedesaan di Kabupaten Manggarai Barat. “Kemandirian petani ini penting. Terlebih bagi kaum ibu yang ada di sini. Mandiri supaya tidak terus terjerat dengan praktek rentenir dan mengurangi keberangkatan kaum muda kita ke luar daerah untuk mencari pekerjaan di sana.” Jelasnya.
Alvenus Joni juga menitipkan harapannya agar semua kelompok yang sudah dibentuk dan didampingi oleh Yakines ini dapat bertahan. Menurut Alvenus, keberadaan kelompok-kelompok yang sudah dibentuk dan didampingi oleh Yakines itu dapat menjadi media untuk membantu kaum perempuan petani ini untuk bisa mandiri. “Saya berharap supaya para ibu yang ada di sini dapat mempertahankan keberadaan kelompoknya untuk bersama-sama mencapai kemandirian.” Harap Alvenus.*
Senin, 28 November 2022
Mendorong Kemandirian Kaum Perempuan Malalui Aliansi Perempuan Indonesia Mandiri (APIR)
Dalam rangka mewujudkan misi peningkatan kesejahateraan seluruh lapisan masyarakat baik perempuan maupun laki-laki maka Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines), menyelenggarakan kegiatan Evaluasi dan Perencanaan (Evaperca) bagi Aliansi Perempuan Indonesia Mandiri (APIR) periode Februari – Desember 2022 di Labuan bajo, pada Rabu, 23 November sampai Jumad, 25 November 2022 di Centro Bajo Hotel.
Aliansi ini merupakan himpunan seluruh perempuan petani dampingan Yakines yang berasal dari seluruh desa yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Manggarai Barat. Aliansi ini dibentuk dengan tujuan untuk meningkatkan harkat dan martabat seluruh kaum perempuan terlebih bagi perempuan petani yang berada di pedesaan. Sudah bukan rahasia lagi bila kaum perempuan di pedesaan selalu identik dengan keterbatasan. Dalam keterbatasan itu, kaum perempuan petani di pedesaan seakan terus terperangkap dalam kemiskinan, keterbelakangan dan bahkan kebodohan. Melalui Aliansi ini diharapakan dapat menjadi sarana bagi kaum perempuan petani di pedesaan untuk mengembangkan dan mensukseskan pembangunan serta membantu meningkatkan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah yang sedang mereka hadapi baik itu perorangan maupun bersama. Demikian diungkapkan oleh Ferdinannadus Mau Manu dalam kata pembuka kegiatan tersebut. “Para ibu di sini harus lebih berani maju dan tampil. Berani mengungkapkan kebenaran. Berani memulai pembangungan baik dalam rumah tangga sendiri maupun di tingkat desanya masing-masing yang berbasis pada kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Ini sangat membutuhkan keberaninan.” Ungkap Ferdinandus.
Lebih Lanjut Ferdinandus mengatakan bahwa aliansi ini dipandang sebagai salah satu upaya pemberdayaan yang mana keberhasilannya akan banyak ditentukan oleh kaum perempuan itu sendiri dalam mengubah sutuasi dan kondisi untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aliansi ini didirikan dengan harapan agar kaum perempuan yang tergabung di dalamnya dapat mengambil inisiatif untuk memulai proses pembangunan. Inisitif yang dimaksud adalah inisiatif untuk menciptakan iklim yang memungkinkan munculnya potensi masyarakat untuk berkembang ke arah yang lebih baik. Selain itu kaum perempuan pedesaan juga diharapkan ikut serta dalam menguatkan daya dan potensi yang dimiliki oleh diri sendiri, keluarga dan suatu kelompok masyarakat.
Kegiatan yang bertemakan Mendorong kemandirian Perempuan itu difasilitasi langsung oleh Ferdinandus Mau Manu, Koordinator Progam, Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines), Labuan Bajo. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari berhasil memunculkan berbagai isu krusial yang sedang terjadi baik ditingkat desa maupun kecamatan yang tersebar di wilayah Kabupaten Manggarai Barat. Selain memunculkan isu krusial penghambat pembangunan, kaum perempuan petani itu juga berhasil memuculkan para aktor yang menjadi dalang dari setiap isu krusial tersebut.
Selain memunculakn isu krusial dan aktornya kaum perempuan petani itu, berhasil mengungkapkan gagasannya terkait solusi untuk mengatasi berbagai isu sosial yang dianggap menghambat pembangunan. Dari berbagai isu yang diungkapkan itu mereka juga berhasil mengungkapkan isu yang paling krusial dan yang harus segera ditindaklanjuti oleh mereka setelah kegiatan tersebut selesai. Salah satu isu krusial yang dimunculkan oleh kaum perempuan dalam kegiatan tersebut adalah masalah praktek perjudian, migrasinya kaum muda ke luar Manggarai Barat, stunting dan isu tentang praktek rentenir yang sekrang menguasai hampir seluruh kaum perempuan petani hampir di seluruh wilayah Manggarai Barat.
Untuk mengatasi berbagai isu krusial penghambat pembangunan ini, tidak bisa hanya mengandalkan kaum perempuan saja. Mereka diharapkan dapat membangun sinergisitas dan bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan baik yang ada di desa maupun di tingkat kecamatan di wilayanya masing-masing. Demikian yang diungkapkan oleh Ferdinandus Mau Manu saat menutupi kegiatan tersebut.*
Jumat, 18 November 2022
Kisah Perempuan Pejuang Organik
oleh
Emilian Keto
Pada awal tahun 2019 silam, Yayasan Komodo Indonesia Lestari mulai menjejakan kakinya di desa Kembo. Pada tahap awal ini langsung terbentuk enam kelompok tani perempuan. Kepada anggota kelompok tani perempuan tersebut dijelaskan semua perihal program kerja Yayasan Komodo Indonesia Lestari. Salah satu program kerja yang turut diberikan penjelasan pada saat itu adalah tentang pertanian dengan pola organik.
Dalam kesaksiannya Ibu Adel mengakui, pertama kali ia menerapkan organik di lahan sawahnya sendiri, hasil panenan mereka berkurang dari biasanya. Menurunnya hasil panen di lahan sawah mereka itu lebih disebabkan karena mereka baru pertama kali menggunakan pupuk dan pestisida organik. Pada saat pestisida dan pupuk organik tersebut ditaburkan padi di lahan sawah mereka itu baru saja ditanam. Ia beranggapan bahwa ini adalah tahap penyesuaian. Meski hasil panennya berkurang namun Ibu Adel dan suami tidak putus asa. Mereka terus berjuang. Berjuang untuk mempersiapkan pestisida dan pupuk organik.
Pada musim tanam kedua Ibu Adel dan suami kembali menerapkan pola organik di lahan sawah mereka yang seluas dua ribu meter meter persegi dan terletak di persawahan Wae Mose. Berkat semangat dan kerja sama yang baik bersama sang suami, akhirnya Ibu Adel berhasil menghabiskan tiga ratus lima puluh kologram pupuk bokasi, lima puluh litar pestisida organik, lima puluh liter pupuk cair, fungisida sebanyak duapuluh lima liter, dan KCL sebanyak duapuluh lima liter.
Hasil panenan selama mereka gunakan pupuk dan pestisida kimia, hanya dapat diperoleh sepuluh karung gabah. Dari sepuluh karung gabah tersebut setelah dijadikan beras hanya terdapat lima ratus kilogram beras. Sementara hasil yang mereka dapat setelah menggukan pupuk dan pestisida organik mengalami kenaikan berat berasnya. Dengan jumlah gabah yang mereka peroleh delapan karung mereka mendapatkan beras seberat enam ratus lima belas kilogram. dari peningkatan jumalh berat bersih beras yang diperoleh ibu Adel dan suami menyimpulkan bahwa pola organik telah memberikan kualitas beras yang sangat baik. Ini yang menjadi pemicu usaha dari ibu Adelheit sehingga ia bersama suami dan kawan-kawannya terus berjuang menerapkan teknologi pertanian organik di lahan sawah mereka.
Saat ini Ibu Adel dan kawan-kawan mampu melayani pembelian dan pemesanan pupuk dan pestisida organik dengan harga yang sangat terjangkau. Hingga saat ini, ketika pengelamannya ini dibagikan jumlah pupuk dan pestisida organik masih tersedia dirumah kediamannya dan siap untuk dijual. Ia juga melayani pemesanan dalam jumlah banyak sesuai kebutuhan calon pembeli.
Ibu Adel dan suami serta kawan-kawannya masih terus bersemangat untuk mengembangkan pupuk dan pestisida orgnik dengan bantuan peralatan yang ada dan disiapkan secara swadaya. Ibu Adel mengakui bahwa ia bangga telah berhasil menerapkan praktek organik ini. Selain untuk dijual, pupuk dan pestisida organik yang mereka hasilkan tersebut lebih untuk mereka terapkan di kebun atau lahan sawah mereka masing-masing.*
Langganan:
Postingan (Atom)
Muhamat Sutar, YAKINES Bawa Harapan Baru Bagi Masyarakat Desa Tiwu Nampar
Menjelang akhir Juli 2023, kami melakukan kunjungan ke desa Tiwu Nampar, seperti yang harus dilakukan di setiap desa dampingan Yakines setia...
-
Ferdinandus Mau Manu, Koordinatror Program Yayasan Komodo Indonesia Lestari (YAKINES), Labuan Bajo kembali mengulangi apa yang selalu disamp...
-
Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines) dengan semangat melayani, ikut bersatu dalam persaudaraan yang sejati dengan ikut mengambil bagi...
-
Yayasan Komodo Indonesia Lestari (YAKINES), Labuan Bajo terus menjaring kerjasama dengan sebanyak mungkin mitra untuk pengembangan program p...





