Jumat, 02 Juni 2023
Membebaskan Petani dari Jeratan “Jadi Kuli Di Kampung Sendiri”
Maraknya praktek rentenir atau usaha mengembangkan uang dengan bunga tinggi yang terjadi di berbagai desa di Manggarai Barat sampai saat ini belum sepenuhnya dapat dicegah. Praktek rentenir yang berbaju koperasi itu, telah banyak menimbulkan neka persoalan di masyarakat. Salah satu persoalan yang paling banyak dijumpai adalah migrasinya angkatan kerja produktif untuk mencari pekerjaan ke luar daerah Manggarai Barat demi melunasi pinjaman dari rentenir. Persolan lainnya adalalh banyak petani terlebih kaum perempuan petani yang terjabak menjadi kuli atau pekerja yang diberi upah harian di kampung halamannya sendiri. Akibat lanjutannya adalah semakin buruknya keadaan perekonomian rumah tangga petani menjadi peminjam. Para peminjam biasanya banyak tergiur dengan tawaran proses peminjaman yang mudah dan cepat meskipun mereka dibebankan dengan bunga tinggi.
Persoalan ini telah memacu semangat petani dampingan Yakines yang berinisiatif dan mendorong Yayasan Komodo Indonesia Lestari (YAKINES) untuk memfasilitasi berdirinya koperasi berbadan hukum. Diharapkan dengan berdirinya koperasi berbadan hukum itu dapat membantu petani untuk mendukung usaha untuk menopang ekonomi rumah tangga petani. Hal ini dikisahkan oleh Ferdinandus Mau Manu dalam sambutannya pada pembukaan rapat anggota tahunan (RAT) ke-3 tahun buku 2022 Koperasi Komodo Alam Lestari (KAL) yang dilangsungkan di Labuan Bajo belum lama ini. Koperasi ini didirikan pada tahun 2019 dan telah berbadan hukum AHU: 006543.AH.01.26 TAHUN 2020.
Menurut Ferdinandus M. Manu, setelah kurang lebih tiga tahun berdiri terhitung sejak tahun 2019, koperasi yang langsung didampingi oleh Yakines ini telah memiliki anggota sekitar limaratusan orang. Dan ini menjadi awal yang baik dalam usaha simpan pinjam dalam koperasi yang keanggotaannya lebih didominasi oleh para petani yang berasal dari sejumlah desa di beberapa kecamatan di Manggarai Barat. Ia juga menjelaskan bahwa untuk dapat menghambat praktek rentenir di pedesaan Koperasi ini memberikan pelayanan secara langsung di lapanga. Pelayanan baik simpan maupun rencana pinjaman akan dilayani secara langsung di setip tempat pelayanan yang tersebar di berbagai tempat di sejumlah desa termasuk di dalam kota Labuan Bajo.
Dengan model pendekatan yang langsung mendatangi setiap anggota di sitiap tempat pelayanan, Koperasi Komodo Alam Lestari telah banyak membantu para petani terlebih kaum perempuan untuk menambah permodalan demi peningkatan usaha yang mereka jalankan seperti mebeler, jual beli kebutuhan pokok (kios), pengembangan tanaman sayur dan berbagai usaha lain.
Keanggotaan Koperasi Komodo Alam lestari (KAL) bersifat terbuka dan sukarela. Sekretaris koperasi Komodo Alam Lestari, Ferdinandus M. Manu menejelaskan bahwa walaupun koperasi ini digagas oleh petani namun koperasi ini juga membuka kesempatan untuk semua orang yang ingin bergabung menjadi anggota. Dengan menjadi anggota dalam koperasi ini berarti ikut membantu kesejahteraan petani.
Sementara itu Gabriela Uran yang menjabat sebagai ketua pada Koperasi Komodo Alam Lestari mengharapkan agar kebersamaan yang telah dibina dalam wadah koperasi ini dapat terus dipertahankan. Menurut Direktris Yakines ini, pemenuhan kebutuhan dan peningkatan kesejahteraan secara ekonomis dalam rumah tangga dapat dicapai dengan kebersamaan. Bersama saling menopang dan saling menolong antar anggota. Ia juga menyampaikan terimakasih atas bertambahnya jumlah keanggotaan sampai saat ini.
Hadir dalam kesempatan RAT ke-3 Koperasi Komodo Alam Lestari (KAL) itu pembina P. Simon Suban Tukan, SVD para simpatisan dan anggota dari sejumlah tempat pelayanan (TP) yang diundang untuk menghadiri kegiatan RAT tersebtu. Dalam sambutannya P. Simon, SVD menjelaskan bahwa keadaan yang dialami oleh koperasi ini adalah bagian dari proses untuk menjadi. Menurutnya, koperasi-koperasi yang saat ini sudah menjadi besar pun pernah melewati masa-masa seperti ini. Untuk itu menurut pembina koperasi ini, semangat pelayanan kepada para petani harus tetap dijaga. Semangat untuk menolong para petani terlebih kepada kaum perempuan petani di pedesaan dengan harapan setelah kaum perempuan petani anggota koperasi ini terbantu mereka dapat menolong sesama mereka terlebih untuk keluar dari jeratan praktek rentenir. Demikian diungkapkan oleh P. Simon S. Tukan.
Menurut P. Simon, dengan bergabung menjadi anggota dalam koperasi ini berarti kita telah mewujudnyatakan hukum cinta kasih sebagaimana yang digaungkan dalam ajaran agama. Dengan menjadi anggota dalam koperasi ini berarti kita ikut menolong sesama anggota kita yang kesulitan dengan prinsip saya susah kamu bantu, kamu susah saya bantu. Prinsip saling menolong dalam keanggotaan koperasi ini mungkin dapat terwujud dengan baik kalau ada komitmen untuk rajin menyimpan, mau meminjam dan tertib memberikan angsuran. Demikian dijelaskan oleh pimpinan JPIC SVD Ruteng ini.*
Kamis, 11 Mei 2023
Yakines dan SMAN 2 Komodo, Bekerja dan Belajar Bersama
Yayasan Komodo Indonesia Lestari (YAKINES), Labuan Bajo terus menjaring kerjasama dengan sebanyak mungkin mitra untuk pengembangan program pertanian yang berbasis organik. Salah satu mitra yang saat ini terjaring dan sudah mulai dibangun kerjasamanya yakni lembaga pendidikan SMAN 2 Komodo. Kerjasama ini adalah upaya untuk memperkenalkan sekaligus membangkitkan semangat untuk mencintai tanah dan memulai gerakan berani menjadi petani kepada generasi muda di Kabupaten Manggarai Barat teristimewa bagi para peserta didik yang ada di SMAN2 Komodo. Kerjasama ini sudah mulai dibangun sejak tahun 2022 yang ditandai dengan peluncuran tiga vokasi utama, salah satunya adalah Vokasi Agrobisnis Agriculture. Kerjasama ini kemudian dimantapkan pada bulan Februari 2023 lalu. Demikian dijelaskan oleh Ferdinandus Mau Manu, Koordinator Program Yayasan Komodo Indonesia Lestari (YAKINES) dalam acara serah terima peralatan pertanian yang diberikan oleh Yakines kepada pihak sekolah yang berlangsung diaula pertemuan SMAN 2 Komodo belum lama ini.
“Kerjasama ini sebenarnya untuk saling menyempurnakan. Kesempurnaan yang bisa kita raih dengan kerjasama dan sama-sama belajar. Prinsip kerjasama kita adalah kemitraan. Kita bersama menemukan dan menyempurnakan apa yang sudah ada melalui ujicoba dan penelitan bersama perihal praktek-praktek baik yang sudah dimiliki baik oleh Yakines atau oleh sekolah ini.” Jelasnya.
Ferdinandus Mau Manu juga menjelaskan bahwa kerjasama ini sebagai suatu keberuntungan atau berkat bagi Yakines karena bekerjasama dengan lembaga pendidikan memiliki peluang lebih besar untuk melakukan riset atau penelitan terhadap produk pertanian organik yang akan dikerjakan bersama.
Lebih lanjut ayah dua orang anak ini menjelaskan bahwa kerjasama ini terjalin berkat dukungan Misereor, lembaga donor yang berasal dari Jerman yang memiliki fokus perhatian pada persoalan kaum muda, pertanian, pangan, konservasi sumber daya alam dan pemebrdayaan kaum perempuan. “Bantuan peralatan untuk mendukung kegiatan pertanian bagi para siswa di sekolah ini memang tidak seberapa tetapi ini adalah kesempatan untuk kita belajar. Ini adalah bagian dari dukungan dan perhatian serius dari lambaga donor Misereor. Dari Yakines nanti akan menempatkan satu orang fasilitator dan koordinator lapangan untuk mendampingi para guru dan siswa saat melakukan praktek pengembangan pertanian organik.” Jelasnya.
Ferdinandus juga menaruh harapan bahwa dengan dibangunnya kerjasama antara Yakines dan SMAN 2 Komodo ini dapat menjadi model pembelajaran tidak hanya bagi keluarga besar SMAN 2 Komodo tetapi bagi warga sekitar sekolah, teman-teman dari para siswa dan bagi sebanyak mungkin masyarakat di kota Labuan Bajo pada umumnya. “Harapannya kerjasama ini dapat kita jaga dan kita kembangkan. Sementara itu, bapak dan ibu guru bisa membuat suatu pengamatan pada anak didik kita yang sudah menamatkan pendidikannya dari sini. Apakah mereka terus mewariskan hal baik ini atau tidak. Ini yang akan menjadi ceritera sukses yang dapat ditularkan kepada teman-temannya. ” Ungkap Ferdinandus.
Hadir dalam acara tersebut Kepala SMAN 2 Komodo, Kornelis Joni bersama seluruh perangkat sekolah. Kornelis Joni dalam sambutannya menjelaskan bahwa kerjasama antara Yakines dan Lembaga Pendidikan SMAN 2 Komodo ini adalah kerjasama berdasarkan misi yang sama. “Baik Yakines maupun sekolah ini mempunyai satu tujuan yang sama, memberikan bekal pengetahuan kepada generasi muda kita untuk mencintai pertanian. Hal ini sejalan dengan dorongan kurikulum merdeka. Siswa diberikan kebebasan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya sesuai dengan keadaan alam, zaman dan bakat yang dimiliki dari setiap peserta didik.” Tegas Silvester Joni.
Kepada para gurunya, Kornelis Joni juga menegaskan pentingnya memenfaatkan potensi yang ada demi masa depan para peserta didik. “Sekolah ini sudah memiliki potensi, ada para guru yang mampu bekerja dalam dunia pertanian, alam yang kita miliki dan nantinya akan kita dukung. Harapannya dengan potensi ini kita dapat bekerja dengan maksimal demi menjaga kerjasama ini agar tetap terjaga.” ungkapnya.
Dikesempatan yang sama juga dilangsungkan serah terima yang dilakukan secara simbolik peralatan kerja dan berbagai jenis benih sayur dan buah-buahan untuk dikembangkan secara organik dilingkungan sekolah tersebut. Selain acara serah terima dilangsungkan juga pembacaan dan penandatanganan nota kesepahaman antara Yakines dan SMAN 2 Komodo untuk pengembangan pertanian dengan pola organik.*ABW
Kamis, 04 Mei 2023
Menebarkan Semangat Bertani Dengan Pola Organik
Selain menyasar kaum muda dalam kota Labuan Bajo yang dilakukan dengan membangun kerjasama bersama lembaga pendidikan, Yayasan Komodo Indonesia Lestari (YAKINES), Labuan Bajo terus berupaya untuk menyebarluaskan semangat bertani dengan pola organik. Hal ini dilakukan dengan mendorong agar pertanian organik dapat dijadikan sebagai salah satu program kerja dalam komisi Justice, Peace and Itegrity of Creation (JPIC) paroki Maria Bunda Segala Bangsa Wae Sambi, Labuan Bajo. Pertanian organik ini berhasil dicanangkan berkat keterlibatan aktif dari Yakines dalam komisi tersebut.
Ferdinandus Mau Manus, Koordinator program Yayasan Komodo Indonesia Lestari (YAKINES), menjelaskan bahwa dari program pertanian organik ini dicanangkan menjadi salah satu program dalam komisi JPIC menargetkan terjadinya peningkatan kesejahteraan ekonomi umat paroki Maria Bunda Segala Bangsa (MSBS), Wae Sambi. “Dari diskusi diantara kami beberapa orang teman di komisi ini bersama pastor paroki, kemudian kami sepakati bahwa pertanian organik ini patut menjadi salah satu program penting yang harus dikerjakan. Dan saya sendiri mewakili Yakines, menyambut baik kesepakatan ini dan menyatakan diri siap untuk memberikan pendampingan.” Jelasnya.
Program ini diwujudnyatakan pertama kali di tingkata Kelompok Basis Gereja (KBG) yang ditandai dengan pembuatan effective microrganism 4 (EM4) organik pada pertengahan April 2023 lalu. Setelah berhasil membuat effective microrganism 4 (EM4) organik, umat dari Kelompok Basis Gereja (KBG) St. Thomas Moor, bersama Yakines yang diwakili oleh Titus Anggar dan Natalian Namang yang diorganisir sendiri oleh Ferdinandus Mau Manu, melakukan pelatihan dalam pembuatan pupuk bokasi di kebun sekolah milik SDLB Negeri Labuan Bajo pada Kamis,27 April 2023. “Saya bersama teman-teman dari Yakines datang memberikan pendampingan kepada para guru yang sebagian besar merupakan umat dari KBG St. Thomas Moor paroki Maria Bunda Segala Bangsa Labuan Bajo. Kegiatan ini menjadi kegiatan tindak lanjut dari program pertanian organik yangsudah kami canangkan dalam komisi JPIC paroki Maria Bunda Segala Bangsa, Labuan Bajo.” Jelasnya.
Di kesempatan yang sama ia juga menuturkan harapannya agar pengembangan tanaman sayur dan buah organik yang akan dikerjakan oleh umat dari KBG St. Thomas Moor itu dapat menjadi wadah atau tempat belajar bersama. “Diharapkan supaya di sini nantinya akan menjadi tempat pembelajaran bersama. Baik untuk pihak sekolah maupun untuk umat KBG St. Thomas Moor dan semua saja yang mau belajar untuk mengembangkan sayur dan dan buah dengan menerapkan teknologi pertanian organik di Labuan Bajo. Pertanian organik yang kami dampingi ini adalah pertanian yang berkelanjutan dan selaras alam. Teknologi sederhana namun berkualitas dengan memenfaatkan bahan-bahan dasar lokal yang ada di sekitar tempat kita tinggal. Semoga ini dapat menjadi kebun contoh yang memberikan dorongan dan motifasi bersama bagi siapa saja.” Harap ayah dua orang anak ini.
Kegiatan pembuatan pupuk padat bokasi ini dihadiri oleh kepala sekolah SDLB Negeri Labuan Bajo, Yoseph Min Palem, bersama para guru dan staff lainnya. Hadir dan ikut bekerjasama para peserta didik yang meskipun bekerja dalam keterbatasan fisik. Yoseph Min Palem, menuturkan bahwa secara pribadi dan mewakili lembaga ia sangat berterimakasih kepada Komisi JPIC paroki Maria Bunda Segala Bangsa, Wae Sambi dan Yakines, Labuan Bajo yang telah memberikan pendampingan mulai dari proses pembuatan EM4 organik sampai melakukan pembuatan pupuk padat bokasi ini. “Secara pribadi dan mewakili lembaga saya tentunya sangat berterimakasih kepada teman-teman dari Yakines yang telah berjuang memberikan pendampingan kepada kami dalam usaha pengembangan pertanian dengan pola organik ini. Ini akan kami gunakan untuk menanam sayuran dikebun sekolah dan sekaligus menjadi tempat pembelajaran bersama baik olehy para sisiwa atau siswi disekolah ini dan sekligus untuk semua ingin belajarnya. Jelas Yoseph Min Palem.*
Kamis, 13 April 2023
Petani Dalam Gua Jeratan Koorporasi
Entah sadar, entah tidak, petani di masa sekarang sedang tidak baik-baik saja. Profesi yang dijuluki sebagai penyanggah tatanan negara Indonesia itu kini dibuat menjadi serba tidak berdaya. Ketidakberdayaan petani lebih diciptakan oleh keadaan dan sistem yang ada di dalam negara ini. Pertanian dipolitisasi. Akibatnya adalah petani dieksploitasi melalui perdagangan. Berpacu dalam ruang persaingan rugi dan laba, petani akhirnya berdiam diri dalam jeratan kaum kapitalis yang dibungkus rapih dalam kemasan industrialisasi. Koorporasi membuka pintu gua jeratan bagi petani dengan dalil kemajuan dalam dunia pertanian. Jeratan yang dipasang kaum kapitalis dengan mendapat dukungan dan kebijakan politik yang tidak berpihak pada petani itu masih belum disadari penuh oleh kebanyakan masyarakat luas termasuk di dalamnya oleh petani itu sendiri. Persoalan ini dikemukakan dengan lantang oleh Koordinator program Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines) Labuan Bajo, Ferdinandus M.Manu di hadapan kepala desa bersama staff, ketua BPD dan anggota, para kepala Dusun, para ketua RT, para kader posyandu, para tua-tua adat dan perwakilan kaum perempuan Desa Watu Nggelek dalam acara penyusunan rancangan perturan deda tentang kedaulatan pangan di aula kantor Desa Watu Nggelek belum lama ini.
Menurut Ferdinandus M. Manu, keberadaan petani dalam gua jeratan koorporasi itu dapat dilihat dari ketergantungan petani pada dunia industrialisasi yang justeru mengekerdilkan kehidupan petani itu sendiri. Ketergantungan yang paling utama adalah ketergantungan benih. Sejatinya identitasnyaseorang petani itu dikenal dari kepemilikian benih. Sayangnya petani dalam dewasa ini sudah terlalu bergantung pada benih yang diperjualbelilkan. Benih yang diperdagangkan. Benih hasil dari proses industrialisasi. Sejalan dengan upaya memperdagangkan benih kepada petani, pemerintah seringkali mengambil kebijakan politik yang timpang. Benih dijadikan alat politisasi demi menarik simpatik masyarakat petani. Lagi-lagi benih hasil industri itu juga yang dibagikan. Baik benih yang dibagikan oleh pemerintah ataupun benih yang dibeli langsung oleh petani sama-sama memiliki riwayat yang sama. Sama-sama diciptakan agar petani terus bergantung. Petani diharuskan untuk tidak memiliki benih secara merdeka dan mandiri karena benih tersebut telah dirakit untuk satu atau dua kali tanam. Kemenangan awal telah berpihak pada kaum kapitalis.
Ketergantungan petani pada mesin uang kaum kapitalis tidak saja terbatas pada benih semata tetapi menjalar sampai pada sarana dan prasarana produksi. Beredar luas pupuk dan pestisida pabrikan sejak revolusi hijau sampai sekarang. Petani lagi-lagi menggantungkan nasibnya pada pupuk dan pestisida pabrikan. Petani hingga kini masih saja terus begeming tanpa daya. Pemerintah merintis kebijakan memberikan subsidi pupuk. Alih-alih mensejahterakan petani, toh cita-cita dari kebijakan itu serasa panggang jauh dari api. Petani seakan dihipnotis untuk terus menerus menggunakan pupuk dan pestisida pabrikan itu tanpa tahu kapan akan berakhir. Sementara semua unsur hara dalam tanah terus disedot dengan paksa sebagai akibat penggunaan pupuk dan pestisida pabrikan. Akibat yang dirasakan oleh petani adalah semakin berkurangnya jumlah hasil pertanian yang lebih disebabkan oleh kondisi tanah semakin hari semkin keras dan padat. Petani terpaksa harus terus menambah jumlah atau dosis pemberian pupuk dari waktu ke waktu. Ongkos kerjapun terus bertambah. Semakin tingginya jumlah ongkos kerja sementara hasil panenan yang didapat jauh dari yang diharapkan. Kerugian diderita petani. Bertani dipandang sebagai kemalangan. Karenanya anak, remaja dan kaum muda dari kelurga petani hampir tidak pernah diharapkan untuk kembali menjadi petani.
Saat ini petani telah terseret masuk dalam gua jebakan industrialisasi oleh kaum kapitalis. Gua, oleh Plato telah dijadikan sebagai analogi sistem pengetahuan manusia. Menurut Plato, manusia yang terjebak dalam gua akan beranggapan bahwa yang mereka lihat itu adalah kebenaran sekalipun dalam keadaan yang gelap. Kebenaran tidak akan diperoleh oleh mereka yang tidak ingin berjuang membebaskan diri dari gelapnya gua. Pengetahuan akan kebenaran hanya dapat dimiliki oleh mereka yang mampu dan mau melihat setitik cahaya yang datang dari luar gua. Tidak hanya melihat namuan ia berniat dan berjuang untuk menemukannya. Plato melukiskan bahwa orang yang mau mencari kebenaran itu akan berjuang dengan memanjat tebing gua dan keluar melihat cahaya matahari yang bersinar gemilang di luar gua.
Mnurut Ferdinandus Mau Manu, Yayasan Komodo Indonesia Lestari (YAKINES)- Labuan Bajo, berjuang dengan segala daya dan upaya terus membangun kesadaran masyarakat petani untuk sadari keadaan dan berbalik membebeskan diri dari jeratan kaum kapitalis. "Kami hadir sebagai lembaga yang transformatif bukan sebagai lembaga karitatif. Sebagai lembaga yang transformatif; maka kami datang ke hadapan bapak dan ibu untuk membagikan pengetahun, kemampuan dan teknologi. Jadi kami hadir bukan untuk membagi uang atau barang." Tegasnya.
Lebih lanjut ia berharap agar dengan pengetahuan, kemampuan dan teknologi yang diberikan oleh lembaga YAKINES dapat menjadi jalan pulang bagi petani untuk keluar dari gua jebakan kaum kapitalis dan praktek timpang dari sistem politik masa kini dalam dunia pertanian. Jalan ini kami buka dan kami berikan dengan program pertanian organik, lumbung benih dan berbagai program lain. "Sekarang tinggal bapak dan ibu pilih mau tetap berdiri teguh dalam gua jebakan industrialisasi dalam dunia pertanian kita atau segera berbalik badan mencari jalan pulang menuju kemerdekaan diri dan menunjukan identitas diri sebagai petani yang sejati?" Ungkapnya retoris.
Senin, 27 Maret 2023
Yakines Di Desa Batas Kota
Desa Nggorang sampai saat ini masih dikenal sebagai batas kota. Di sini jadi pintu keluar dan masuknya warga dari dan ke kota Labuan Bajo. Sebagai bagian dari akses keluar dan masuknya orang dan barang itulah yang manjadi salah satu sebab munculnya beragam persoalan di sini. Demikian diungkapkan oleh Kepala Desa Nggorang, Bonefasius Mansur, S.IP ketika membuka kegiatan sosialisasi Rancangan Peraturan Desa yang ditawarkan oleh Yayasan Komodo Indonesia Lestari (YAKINES).
Kegiatan yang dihadiri oleh sebagian besar kaum perempuan yang terdiri dari para kader posyandu, ketua dan anggota BPD, para kepala Dusun, dan para ketua RT serta staff desa. Hadir juga dalam kegiatan tersebut beberapa orang utusan Yayasan Komodo Indonesia Lestari yang diwakili oleh Koordinator Lapangan, Natalia Namang, Pendamping Lapangan Desa Nggorang dan Tiwu Nampar, Paulus Resing dan Titus Anggar. Kegiatan tersebut bertujuan untuk membahas dan menilai tiga rancangan peraturan desa (ranperdes) yakni Ranperdes tentang Kedaulatan Pangan, Randperdes tentang konservasi sumber mata air, dan ranperdes tentang perlindungan anak. “Kegiatan ini menjadi titik awal dimulainya pelaksanaan program dan pendampingan yang dilakukan oleh Yakines di Desa Nggorang.” Jelas Natalia.
Lebih lanjut menurut Natalia, sebagaimana desa-desa dampingan lain, Desa Nggorang akan didampingi selama tiga tahun terhitung sejak Maret 2023 hingga Maret 2026. Menurut Natalia, pendampingan yang akan dilakukan oleh Yakines adalah bagian dari upaya menyalurkan berbagai pengetahuan dan upaya menghidupkan berbagai kearifan lokal seperti praktek pengembangan pertanian organik, perlindungan terhadap sumber daya tanah dan air melalui kegiatan tanam pohon di mata air dan teras sering, pemenfaatan lahan pekerangan, pengembangan pangan lokal hampir punah, usaha bersama simpan pinjam, program lumbung benih dan lumbung pangan. “Ini yang jadi fokus pendampingan kami selama bersama masyarakat di Desa Nggorang ini. Sehingga kegiatan ini kami kemas dalam tema umum kerja Yakines yakni Pemberdayaan Perempuan malalui kedaulatan pangan, perlindungan dan konservasi sumber daya alam. Jadi ada tiga poin utama yang jadi titik fokus Yakines yaitu perempuan, pangan dan alam.” Terang Natalia di hadapan peserta yang hadir.
Disela-sela kegiatan yang berlangsung di aula kantor Desa Nggorang pada Senin, 19 Maret 2023 itu, Bonefasius Mansur mengungkapkan bahwa pada pada prinsipnya, pemerintah Desa Nggorang dengan senang hati menerima setiap pihak yang memiliki niat tulus dan mau berkorban demi pembangungan desa tersebut ke arah yang labih baik. “Pada prinsipnya saya sebagai kepala desa di tempat ini dengan hati senang menyambut setiap orang dan semua pihak yang mau bekerja sama dan sama-sama bekerja untuk pembangunan desa ini ke arah yang lebih baik. Termasuk Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines) ini.” ungkap Benfasius.
Ia juga menuturkan bahwa Desa Nggorang sebagai desa batas kota memiliki sekelumit persoalan yang perlu mendapatkan perhatian dan kerja sama dari semua pihak untuk menuntaskannya. “Ada banyak persoalan yang ada di sini. Ada persoalan warga yang datang dan pergi sehingga kesulitan dalam proses pendataannya, kepemilikan kos-kosan yang tidak terkontrol oleh pemilik, perosalan sampah, pemenuhan gizi anak, sanitasi dan berbagai persoalan lain.” Jelas Bonefasius.
Ia berharap dengan Pendampingan Yakines bagi masyarakat Desa Nggorang dapat menjadi angin segar bagi pemerintah dan masyarakat Desa Nggorang dalam proses pembangunan.”Harapannya dengan kedatangan Yakines bisa menjadi angin segar dan membantu dalam proses pembangunan desa ini ke arah yang lebih baik terlebih untuk mengentaskan beragam persoalan yang bisa diatasi bersama Yakines.” Pinta Bonefasius.
Sementara itu Margaretha Hasmawati, ketua PKK Desa Nggorang mengungkapkan bahwa dengan masuknya Yakines ke Desa Nggorang ini menjadi kekuatan bagi PKK dan para ibu untuk memberikan perhatian khusus pada persoalan pemenuhan gisi anak melalui upaya pemenfaatan pekerangan. “Semoga bersama Yakines bisa menjadi penyemangat untuk sama-sama kita berikan perhatian khusus pada pemenuhan gizi anak melalui pemenfaatan pekerangan dengan menanam sayur dan berbagai kebutuhan dapur lain. Hal lain adalah semoga dengan hadirnya Yakines di Desa Nggorang ini dapat bekerja sama untuk peningkatan ekonomi rumah tangga yang berdampak langsung pada kaum ibu di Desa ini” Ungkap Margaretha.* ABW
Senin, 13 Maret 2023
Yakines Berpastoral
Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines) dengan semangat melayani, ikut bersatu dalam persaudaraan yang sejati dengan ikut mengambil bagian secara aktif dalam persekutuan umat Katolik yang tergabung dalam Paroki Maria Bunda Segala Bangsa, Wae Sambi- Labuan Bajo. Keterlibatan aktif ini ditandai dengan diterimanya jabatan ketua pada Komisi Justice, Peace, Integrity of Creation (JPIC) atau keadilan, Kedamaian dan Keutuhan Ciptaan oleh Direktris Yakines, Gabriela Uran dan Koodrdinator Program Yakines, Ferdinandus M. Manu sebagai anggota. Ibarat setali tiga uang dengan Kebijakan Gereja Katolik Keuskupan Ruteng yang pada tahun 2023 ini telah memilih tema Tahun Pastoral Ekonomi, Berkelanjutan yang Sejahtera, Adil dan Ekologis (SAE). Dalam kaitanya dengan tema tahun pastoral ini maka keikutsertaan Yakines ini telah memberi andil dalam memunculkan berbagai program yang sudah menjadi napas kerja dari Yayasan Komodo Indonesia Lesatari (YAKINES) tanah Manggarai Barat sejak duapuluh tahun silam. Salah Satu dari sekian banyak program yang dimunculkan adalah pengembangan pertanian organik secara khusus pengembangan sayur dan buah organik. Demikian dijelaskan Ferdniandus M. Manu usai memberikan pendampingan dan pelatihan kepada keluarga-keluarga Katolik yang tergabung dalam Komunitas Basis Gereja (KBG), St. Thomas Moore pada Sabtu, 11 Maret 2023 bertempat di kebun milik Sekolah Luar Biasa Negri Labuan Bajo. “Pertanian organik, menjadi salah satu program yang sudah kita canangkan dan kita sepakati bersama pastor paroki Maria Bunda Segala Bangsa. Setelah disepakati maka kemarin kami langsung aksi tindak lanjutnya dengan pembuatan EM4 organik bersama sesama umat di KBG St. Thomas Moore.” Jelasnya.
Lebih lanjut Ferdinandus M. Manu menjelaskan bahwa, kegiatan pelatihan dan pembuatan EM4 organik ini dihadiri juga oleh para siswa/siswi dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Labuan Bajo. “Kebetulan kebun contoh yang dipilih oleh umat KBG St. Thomas Moore adalah bagian dari kintal sekolah maka hadir juga pada saat itu sejumlah siswa/siswi SLBN Labuan Bajo. Diharapkan dikebun ini dapat menjadi pusat pembelajaran bukan saja oleh umat dari KBG St. Thomas Moore tetapi juga menjadi pembelajaran bagi siswa/siswi dari sekolah tersebut..” Ungkapnya.
Menurutnya, semua respon umat Paroki Maria Bunda Segala Bangsa Wae Sambi terhadap program pertanian organik yang gelorakan oleh Yayasan Komodo Indonesia Lestari (YAKINEs dalam Komisi JPIC paroki ini sangat tinggi. “Respon umatnya sangat tinggi. Terbukti setelah program ini dicanangkan beberapa KBG dalam wilayah paroki langsung meminta kesediaan kami untuk dampingi mereka dalam proses pembuatan pupuk dan pestisida organik.” Jelas Ferdi.
“Hal lain yang membuat saya bertambah semangat adalah umat di KBG tidak keberatan ketika mereka dimintakan untuk siapkan bahan-bahan dan peralatannya. Di KBG St. Thomas Moore, kami sudah hasilkan tidak kurang dari seratus liter EM4 organik. EM4 organik ini sudah bisa dipanen pada akhir Maret 2023 ini yang selanjutnya akan kami lanjutkan dengan pembuatan bokasi atau pupuk padat organik dan berdasarkan kesepakatan bersama bahwa paroki juga akan ikut ambil bagian dalam program ini dengan menyediakan bibit atau benih sayuran dan buah-buahan yang akan ditanam oleh umat di setiap kebun contohnya masing-masing KBG. Dan dalam waktu dekat ini saya juga akan dampingi umat di KBG Sta. Felicita.” Ungkapnya senang.
Menurut Ferdinandus M. Manu, umat KBG St. Thomas Moore sudah berencanan akan mengembangkan sayur dan buah organik di lahan tersebut. “Rencananya kami bersama-sama akan kembangkan sayur dan buah-buahan organik dilahan garapan yang dijadikan sebagai kebun contoh itu. Secara pribadi saya siap untuk memberikan pendampingan kepada mereka termasuk mendampingi mereka untuk proses pengolahan lahan, penanaman hingga perawatan dan pemanenan.” Terangnya.
Jumat, 10 Maret 2023
Yakines Ke Sekolah
Dalam rangka menumbuhkan dan membangkitkan semangat bertani dalam diri kaum muda, Yayasan Komodo Indonesia Lestari (YAKINES) menjalin kerja sama bersama Lembaga Pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Komodo. Kerjsama yang telah disepakati bersama dan telah ditandatangani sejak bulan Mei 2022 lalu dilanjutkan dengan rapat teknis yg berlangsung pada Kamis 09 Maret 2023 di Aula Pertemuan SMAN 2 Komodo. Hadir dalam rapat teknis tersebut Koordinator Program Yakines, Ferdinandus M. Manu bersama Koordinator Lapangan, Natalia L. Namang dan pendamping Lapangan (PL), Titus Anggar serta Paulus B. Resing. Turut hadir Kepala SMAN 2 Komodo, Kornelis Joni, S. Fil bersama para guru yang tergabung dalam tim pendampingan program vokasi agrikultur SMAN 2 Komodo.
Kornelis Joni dalam sambutan yang sekaligus membuka dengan resmi rapat tekhnis tersebut mngatakan bahwa pihak sekolah sangat berbangga dan memberikan apresiasi yang tinggi atas respon baik dari Yàkines untuk mendukung terlaksananya kegiatan vokasi agrikultur secara khusus pada pengembangan pertanian organik di sekolahnya itu. "Kami dari pihak sekolah sangat bersyukur dan berterimakasih kepada Yakines yang telah merespon dengan sangat baik program kami ini. Hal ini sejalan dengan semangat dari kurikulum merdeka dan sesuai dengan latar belakang kehidupan anak didik kami di sini yang sebagian besarnya berasal dari keluarga petani." Jelas Korenelis.
Lebih Lanjut Kornelis menjelaskan bahwa program vokasi agrikultur sebagaimana program vokasi lain yang digiatkan di sekolah tersebut, vokasi agrikulture lebih didasari oleh pengamatan lanjutan yang menunjukan bahwa hampir mencapai 70% siswa/siswi yang tamat dari sekolah tersebut memilih untuk tidak melanjutkan kuliah dengan beragam alasan. “Hampir 70% siswa/siwi tamatan sekolah kami ini memilih untuk tidak melanjutkan kuliah dan hanya 30% yang malanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Dengan pengelaman ini kami merasa tepat bila kami dengan serius mengembangkan program vokasi agrikultur kepada para siswa. Harapannya dengan adanya pengelaman bertani semasa sekolah ini akan menjadi bekal bagi mereka untuk bertani setelah mereka tamat nanti. Ya, mereka harus menjadi orang muda yang berani untuk menjadi petani yang handal. Tentunya bertani secara organik.” Ungkapnya usai rapat berlangsung.
Sementara itu Ferdi M. Manu dalam keterangannya mengatakan bahwa, ini adalah pengelaman pertama bagi Yakines dalam mendampingi kaum muda secara intens. "Sudah hampir duapuluan tahun Yayasan Komodo Indonesia Lestari (YAKINES) barkarya di Manggarai Barat. Namun selama ini kami hanya melayani dan memberikan pendampingan kepada para petani di desa-desa pedalaman dan terisolir. Kalaupun memberikan pendampingan kepada kaum muda namun belum seintens seperti yang akan dilakukan seperti dalam kerjasama bersama SMAN 2 Komodo ini. Harapannya kaum muda kita akan semakin tertarik pada dunia pertanian kita lebih khusus pertanian organik." Jelas Ferdi.
Kerjasama ini dilakukan dengan model pendampingan yang yang terus-menerus atau berkelanjutan selama periode tertentu oleh Yakines kepada para siswa/siswi dan para guru dalam mengembangkan pertanian organik. “Saya secara pribadi bersama rekannya saya yang mendampingi masyarkat Desa Nggorang akan secara rutin memberikan pelatihan dan pendampingan dalam proses pengembangan pertanian organik, mulai dari cara membuat pupuk dan pestisida organik sampai pengolahan lahan, penanaman, perawatan dan pemanenan.” Ungkap Titus Anggar yang diamini oleh rekan-rekan pendamping yang lainnya.
Untuk diketahui bahwa pendampingan kepada kaum muda ini digagaskan oleh Yakines guna mencegah terjadinya migrasi kaum muda dari Kabupaten Manggarai Barat untuk mencari pekerjaan ke luar daerah. Dalam pertemuan tekhnis tersebut juga disepakati pengadaan berbagai jenis perlatan dan bahan pengembangan pertanian organik yang akan diadakan bersama antara Yakines dan SMAN 2 Komodo.
Langganan:
Postingan (Atom)
Muhamat Sutar, YAKINES Bawa Harapan Baru Bagi Masyarakat Desa Tiwu Nampar
Menjelang akhir Juli 2023, kami melakukan kunjungan ke desa Tiwu Nampar, seperti yang harus dilakukan di setiap desa dampingan Yakines setia...
-
Ferdinandus Mau Manu, Koordinatror Program Yayasan Komodo Indonesia Lestari (YAKINES), Labuan Bajo kembali mengulangi apa yang selalu disamp...
-
Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines) dengan semangat melayani, ikut bersatu dalam persaudaraan yang sejati dengan ikut mengambil bagi...
-
Yayasan Komodo Indonesia Lestari (YAKINES), Labuan Bajo terus menjaring kerjasama dengan sebanyak mungkin mitra untuk pengembangan program p...


